Materialisme

Materialisme

Materialisme

Belakangan ini, fenomena masyarakat memang sangat mengerikan. Hampir setiap hari berita surat kabar, televisi dan media lainnya menyuguhkan berita tentang korupsi, penyalah gunaan kekuasaan, pelanggaran etika jabatan, dan sebagainya. Dikalangan bawah dan menengah banyak sekali saudara-saudara kita yang terjerumus masuk penjara. Pasalnya adalah sebab-sebab kemiskinan, pengangguran dan sebab lain. Tapi bagaimana bagi yang telah menduduki posisi tinggi dalam struktur pemerintahan atau perusahaan ? Ada yang mengatakan karena dewasa ini kita sedang diserang oleh penyakit ”materialisme”. Setuju atau tidak kita terhadap argumentasi itu, tidak ada salahnya kita bahas dan analisis issue itu, hitung-hitung sebagai antisipasi dan perhatian kita terhadap fenomena masyarakat itu.

Sebelum kita membahas lebih jauh, perlu kiranya kita sepakati terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan ”materialisme” itu. Materialisme adalah paham yang mengukur segala sesuatunya dengan ukuran materi, namun melupakan unsur-unsur norma yang berlaku di masyarakat (lihat juga Kamus Besar Bahasa Indonesia, halaman 637). Sebagai contoh jika seseorang karyawan (pegawai negeri sipil / swasta) datang pulang ke kampung asalnya dengan membawa mobil, dikatakan bahwa orang itu sudah mengalami kesuksesan. Belum ditanya, berapa tahun sudah bekerja, berapa gajinya, apa jabatannya dan bagaimana hal ihwal pemilikan mobil itu. Contoh lain, kalau seorang camat apalagi Bupati datang kekantornya dengan kendaraan yang sederhana dikatakan kurang berwibawa. Tetapi sebaliknya jika pejabat itu kekantor dengan mobil mewah dikatakan pejabat yang berwibawa. Apakah kewibawaan itu karena ukuran mobil itu atau karena prestasi kerja, kemampuan akademis, kemampuan sosial dan kemampuan lainnya yang mampu memajukan kesejahteraan masyarakatnya ? Jika penilaian itu keliru, maka besar kemungkinan penyakit materialisme menggoda. Pada hal yang benar, penggunaan atau pemilikan terhadap suatu kendaraan bukan suatu larangan. Demikian pula pemilihan benda dunia lainnya. Selain itu setiap orang juga punya hak untuk menikmati hidup sebaik-baiknya, memenuhi unsur artha dan kama demi kebahagiaan duniawi.

Dengan mendasarkan pencapaian artha dan kama melalui dharma, maka makin sempurnalah kehidupan itu menjalankan tri purusa artha (3 tujuan hidup manusia) yaitu artha, kama dan dharma. Pencapaian tri purusa artha ini, memudahkan seseorang untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi yaitu moksa. Dengan demikian, maka tercapailah konsep kehidupan insan Hindu yang disebut ”Catur Purusa Artha”. Untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi ini jelas tidak mudah, namun demikian sudah harus dimulai dari cara kita memenuhi tri purusa artha, khususnya dalam memenuhi kebutuhan kama dan artha.

Menghindari mental materialisme adalah keharusan, karena sikap itu membantu menegakkan dharma. Tidak ada yang melarang umat Hindu menjadi kaya, asalkan kekayaan atau materi dunia itu diperoleh melalui dasar dharma. Renungkan hal ini sebaik-baiknya, sebab materi yang didapat dengan menyimpang dari dharma akan menimbulkan bencana dan kesengsaraan. Uji dengan Sarasamuscaya 263 yang berbunyi sebagai berikut : ”Sebab uang itu, jika dharma landasan memperolehnya laba atau untung namanya, sungguh-sungguh mengalami kesenangan orang yang beroleh uang itu, akan tetapi jika uang itu diperoleh dengan jalan adharma, merupakan noda uang itu, dihindari oleh yang berbudi utama; oleh karena itu, janganlah bertindak menyalahi dharma jika anda berusaha menuntut sesuatu” (I Nyoman Kadjeng, dkk., 2003 : 200).

{ 0 comments }

Kisah Kematian yang Misterius

February 23, 2010

Menceritakan kematian adalah cerita yang aneh dan ajaib. Kenapa ? Karena kita menceritakan sesuatu yang tidak diketahui dengan pasti, tetapi sangat menarik, bukan ? Coba dipikirkan, kemanakah jiwa seseorang yang telah meninggal perginya ? Bukankah yang mati hanya jasadnya saja ? Lalu kemana jalannya Sang Atma ? Apakah beliau itu masuk surga atau neraka ? [...]

Baca Lengkapnya →

Ego, Kecerdasan dan Budhi Pekerti

February 21, 2010

Seorang insan (manusia) telah ditakdirkan memiliki ego, kecerdasan dan budhi pekerti (Bhagavadgita XIII. 5). Sloka ini menuntun kita sebagai berikut : Maha-bhutany ahankaro Buddhir avyktam eva ca Indriyani dasaikan ca Panca cendriya-gocarah Arti : Maha bhuta, ahamkara, buddhi dan juga yang tak termanifestasikan (prakrti) sepuluh indra, satu pikiran dan lima objek indra itu. Dengan unsur [...]

Baca Lengkapnya →

Hidup Tidak Hanya Sekedar Mencari Nafkah

June 15, 2009

Berbicara tentang kehidupan manusia merupakan sumber cerita yang tak pernah habis-habisnya. Ia dapat menjadi sumber inspirasi yang sangat menarik. Kehidupan manusia dapat dikisahkan mulai ia dilahirkan, ketika remaja, sesudah dewasa, bahkan ketika ia sudah mencapai kesuksesan atau sebaliknya ketika ia mendapat kegagalan. Manusia dikatakan mahluk yang paling berpahala, karena diantara semua mahluk, hanya yang dilahirkan [...]

Baca Lengkapnya →

Tahan Uji Menghadapi Gelombang Hidup

June 13, 2009

Gelombang laut ada waktu pasangnya dan ada pula kalanya tidak, silih berganti. Demikian pula gelombang kehidupan itu. Ada kalanya kita mendapatkan kesukaan dan ada pula waktunya kita memperoleh kesedihan (silih berganti pula seperti gelombangnya laut). Karena itu, kita perlu tahan uji menghadapi segala masalah kehidupan itu. Jangan sampai terseret dan dihempaskan oleh gelombang itu. Sarasamuscaya [...]

Baca Lengkapnya →